Selasa, 27 Februari 2018

Ku Pergi Untuk Kembali


Perjalanan manusia mulai dari lahir sampai kembali ke sang Pemilik sudah tertulis di skenarioNya. Bahkan daun yang jatuhpun sudah ditentukan, kapan dan seperti apa itu terjadi. Dari kesadaran tentang hakikat hidup dan perumpamaan dedaunan yang memiliki skenario, saya mencoba untuk berpikir dengan jernih apa-apa yang mesti saya lakukan. Kita tidak akan bisa merencanakan segala sesuatu tanpa ada rasa berserah akan kehendakNya.
Bahkan takdir itu rahasia karena manusia diwajibkan untuk menjalani dan berserah akan ketentuanNya. Ampuni hambaMu ini!

Tepat jam 00.00 WITA di pulau seberang, membuat badan ini aktif ke sana kemari membereskan pembukus badan. Sudah dari beberapa minggu saya membuat banyak janji yang selalu dibatalkan sendiri karena ketentuanNya. Namun pada hari ini saya niatkan untuk kembali ke Gumi Paer.
Gelap dan dinginnya waktu tak menyurutkan saya untuk menyebrangi penghalang Pulau Lombok dan Bali. Hiruk pikuk keramaian tak membuat saya menjadi terlena terhadapnya. Seolah-olah tidak ada suara vocal, tidak ada bising dan hembusan angin malam. Sunyi seperti berada pada sebuah ruangan dengan peredam ketebalan 10cm.

Saya terus mengingat dan berusaha menyadari kesadaran diri akan ketentuan dan kehendakNya. Saya mahluk fana di dunia ini, tidak ada yang bisa saya lakukan kecualo berserah dan berusaha menjalani semua. Entah sudah berapa nasihat yang telontar dari orang-orang terdekat, seolah-olah menampar keras pipi berpori besar ini. Iya saya pengecut dan tak bertanggungjawab, sebuah penyesalan diri yang semakin membuat batin ini terpuruk. Silakan tampar sepuasnya, sadarkan aku dari mimpi yang melenakan. Tak banyak yang bisa saya lakukan ketika sebuah tanggungjawab perlahan saya tinggalkan demi menjalani ketentuanNya. Eh, kenapa tanggungjawab? Mahluk tidak bertanggungjawab kepada sesama mahluk, melainkan mahluk menjadi tanggungan penciptanya. Seolah-olah dua kepribadian dalam raga ini sedang saling menguatkan dan melemahkan argumen mereka. Satu mengatakan "kami harus kembali", satunya lagi mengantakan kamu harus jalani semua ketentuanNya. Kamu ini mahluk, yang harus kamu lakukan adalah menjalani semua yang sudah dituliskan. Hey! Tunggu dulu, kamu ini berkehendak bebas melakukan apa yang kamu suka dan inginkan. Hah, pikiran kontra itu terus-terusan terngiang sampai jam di hape layar sentuh terlihat 03.00, sudah waktunya menaiki besi mengapung.

Saya cari tempat yang pas untuk merebahkan kepala ini. Bising layar kaca membuat tidak konsen, saya berusaha memejamkan mata untuk mengisi tenaga namun lagi dan lagi suara-suara itu saling debat. Seolah-olah kebingunganku dan kegundahan ini dijadikan ajang mencari siapa yang salah atau benar. Cukup! Saya lerai mereka dengan batasan hape layar sentuh sambil membuat artikel ini.

Wahai engkau mahluk Tuhan paling seksi, kesadaran paling tinggi ummat manusia adalah kesadaran akan dirinya. Berpikir dan pertimbangkanlah sebelum kita memutuskan sesuatu. Segala sesuatunya tentu memiliki resiko/keuntungan. Namun jangan sampai itu membuat kita bebas dan lepas. Kembakilah ke ajaran inti manusia diciptakan

Percayalah, apa yang kita jalani sekarang adalah bibit untuk masa mendatang.
Kurangilah masalah itu dengan rasa berserah,  sabar dan ikhlas.
Saya yakinkan lagi "Kita semua akan pergi untuk kembali"
Dan saya akan kembali kepadaMu

Kepergian kita dari apapun dan untuk apapun pada muaranya adalah kembali.

 Keep Sharing anda caring

Selasa, 20 Februari 2018

"Bau Nyale" dan Pemburu Ketenangan



Terasa lama sekali saya tidak mengupdate blog yang gado-gado ini, insya Allah mulai sekarang saya akan mencoba mengupdate secara rutin blog ini dengan tulisan dan ilustrasi apa adanya. Kebetulan ada tulisan yang mesti saya angkat dari pandangan pribadi. Ini sudah memasuki akhir Februari dan lombok mempunyai gawe yang cukup besar dalam perhelatan event wisata. Biasanya bulan Februari kesibukan dan keramaian akan terlihat di lombok bagian tengah dan selatan. Ini terkait dengan adanya kebiasaan masyarakat Lombok di bulan ini yang disebut "Bau Nyale". Bau Nyale adalah kegiatan menangkap Nyale atau cacing laut di sekitar pantai Selatan Lombok. Semua orang berbaur mendekati bibir pantai tempat cacing nyale akan di tangkap.

Entah kenapa cacing Nyale ini ada di sekitar pantai selatan Lombok, saya mencoba mencari literasi di internet dan belum menemukan secara ilmiah tentang Nyale ini. Sebagai orang Lombok saya sangat menghargai adat dan budaya leluhur. Saya percaya dan yakin akan ada pelajaran yang berharga disampaikan leluhur dalam setiap acara adat dan budaya salah satunya ritual "bau Nyale" ini. Karena itu saya mencoba menyampaikan sejarah yang secara turun temurun mengenai "Bau Nyale" ini. 

Bau Nyale adalah sebuah tradisi yang sangat melegenda dan memiliki nilai sakral yang tinggi bagi Suku Sasak yang merupakan suku asli Lombok. Tradisi ini dimulai dengan sebuah legenda yang secara turun temurun menjadi bagian dari Ritual Bau Nyale yaitu legenda Putri Mandalika. Dalam legendanya, Putri Mandalika dikenal sebagai sosok putri cantik dan jelita. Putri Mandalika merupakan putri dari pasangan Raja dan Dewi yang memiliki pemerintahan yang bijaksana dan membuat rakyatnya hidup makmur. 

Kecantikan Putri Mandalika ini tersebar di seluruh Pulau Lombok, sampai terdengar di telinga para pangeran yang ada pada masa itu. Para pangeran itu berlomba-lomba meminang sang Putri dengan melakukan berbagai cara yang bisa membuat simpati dan hati sang puri luluh. Mendengar berita bahwa banyak pangeran akan meminangnya, sang putri mulai gusar alias galau dalam bahasa NOW :). Karena jika memilih dari sekian banyak pangeran pastinya pangeran yang tidak terpilih akan marah dan membuat kekacauan sampai bisa perang antar kerajaan. Karena kegalauan dan kegundahan yang berkepanjangan sang putri memutuskan untuk mengundang semua pangeran yang melamarnya. 

Pertemuan itu dilangsungkan di Pantai Kuta Lombok pada tanggal 20 bulan 10 menurut perhitungan bulan Sasak, tepatnya di waktu sebelum subuh. Semua pangeran dan rakyat dari setiap kerajaan kerajaan memenuhi tempat pertemuan. Tibalah waktu di mana sang Putri Mandalika datang dikawal oleh para prajurit kerajaan dan berdiri di sebuah batu yang berada di pinggir pantai. Semua mata tertuju pada sosok sang putri yang dikenal dengan kecantikan dan budinya yang luhur. Sempat sang putri mengeluarkan pernyataannya yang merupakan kalimat terakhir dari sang Putri sampai akhirnya dia melempar diri ke laut lepas. Dalam pesannya itu sang putri mengatakan menerima semua pangeran yang meminangnya namun tidak dengan raganya dan tiba-tiba sosok tubuh itu hilang di lautan lepas. Semua orang berada di pertemuan itu riuh ramai meneriaki sang putri yang sudah lenyap. Akhirnya mereka semua berbondong-bondong mencari sang putri di pinggir pantai, namun tak kunjung ditemukan. Setelah mencari sang Putri beberapa saat setelah kejadian muncullah cacing warna-warni yang menurut masyarakat dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika yang menghilang di lautan.

Itulah sejarah putri Mandalika yang tersebar secara turun-temurun di masyarakat suku Sasak. Sebuah pelajaran berharga bisa kita petik dari legenda Sasak ini. Ketenangan bisa kita dapatkan bukan karena memilih melainkan menerima kenyataan dan berbuat semampu untuk mencegah perkara yang jauh lebih besar mudaratnya dan mendapatkan ketenangan untuk semua. Seperti sang putri yang menerima secara lisan semua lamaran pangeran dan rela melempar tubuhnya agar tidak terjadi peperangan. *suparman.id

Sekarang ini tempat pertemuan sang Putri Mandalika dengan pangeran dan seluruh rayatnya dikenal sebagai Kawasan Mandalika. Kawasan tersebut merupakan salah satu bagian program pemerintah pusat dalam percepatan pembangunan dalam bidang wisata yang diknal dengan sebutan KEK Mandalika (Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika). Di kawasan ini sudah dibangun berbagai fasilitas yang mendukung pariwisata sebagai percepatan pembangunan ekonomi.

Tidak jarang orang berlomba-lomba mencari peluang untuk bisa menanam uang di kawasan ini. Bahkan sudah terlihat berbagai petak-petak kawasan para investor menanam uang mereka. Seolah memperlihatkan berbagai pangeran sudah mendapatkan putri Mandalika dengan petak-petak kerajaan di sekiatar kawasan Mandalika. Tempat yang dulunya merupakan pertemuan kerajaan-kerajaan dalam memperebutkan Putri Mandalika sekarang menjadi sebuah destinasi indah dengan tata kelola yang tersetruktur. Tidak salah Mandalika dijadikan sebagai salah satu dari 10 program percepatan pembangunan dalam bidang pariwisata oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

Jadi dari cerita tentang Putri Mandalika dan program pemerintah pusat yang menjadikan Mandalika sebagai Kawasan Ekonomi Khusus saya memiliki pendapat yang cenderung aneh. Pendapat saya adalah legenda putri mandalika itu adalah sebuah pesan bahwa dimasa mendatang akan datang di kawasan itu berbagai orang dengan kepentingannya dan caranya untuk mendapatkan sebuah tujuan. Kita tahu semua bahwa tujuan hidup ini tak lain adalah untuk mendapatkan kedamaian dan ketenangan. Kita bekerja pergi pagi pulang malam adalah tak lain untuk mendapatkan materi sebagai alat untuk memberikan kepuasan dan ketenangan itu sendiri. Lihatlah kawasan Mandalika sekarang, tempat ini sudah menjadi petak-petak destinasi yang bisa dijadikan sebagai sumber mendapatkan materi maupun ketenangan bagi sebagian orang.
Jadi sekarang apa hubungannya "Bau Nyale" dan para pemburu ketenangan?
Nyale adalah cacing laut yang dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika. Kita tahu bahwa Putri Mandalika adalah seorang putri yang diperebutkan oleh pangeran untuk dipinang sebagai istri. Jika kita jabarkan menikah atau berumahtangga adalah salah satu cara untuk mendapatkan ketenangan di dunia. Sekarang kita lihat efek pembangunan di kawasan Mandalika, ini juga ada hubungannya para pencari ketenangan. Ketenangan apa? kita jabarkan begini, Mandalika adalah kawasan wisata yang pastinya orang yang pergi berwisata salah satu tujuannya adalah untuk mencari ketenangan. Dan sekarang apa hubungannya para pemburu ketenangan dengan pembangunan di Mandalika? Baik ini pendapat awam saya, kita tahu seorang yang menginvestasikan atau menyisihkan sebagian penghasilannya untuk usaha adalah salah satu cara mendapatkan penghasilan lebih. Penghasilan lebih untuk apa? Iya untuk membeli kebutuhan sehari-hari yang tujuannya lagi-lagi adalah untuk mendapatkan ketenangan dan kenyamanan dalam hidup. Benar tidak? :)

Sebagai garis besar bagaimana kita melihat Mandalika dan bau Nyale?

Faktanya adalah Mandalika dijadikan kawasan ekonomi khusus oleh pemerintah pusat. Mandalika juga merupakan tempat dilangsungkannya event/festival bau Nyale setiap tahunnya.

Masalahnya adalah dalam pembangunan ini masih banyak ketimbangan sosial yang telihat. Salah satunya di kawasan ini sendiri masih banyak para masyarakat yang berdagang namun dilarang jika tidak memiliki kartu tertentu sebagai anggota asongan di wilayah itu. Masih rentannya keamanan bagi para wisatawan yang akan berkunjung ke destinasi atau pulang dari destinasi.
Mengenai masalah penjual asongan menjadi anggota asosiasi asongan adalah jalan terbaik untuk mendapatkan hak dalam berjualan di kawasan ini. Namuns saya belum menemukan peran pemerintah daerah dalam membuat aman kawasan ini selain peran dari polisi dan aparat hukum. Setidaknya pemerintah terkait membuat sebuah perangkat khusus yang bertugas mengamankan destinasi-destinasi yang termasuk dalam kawasan Mandalika ini dan pada umumnya di daerah terkait program pemerintah pusat ini.

Bau Nyale itu adalah tujuan kita semua, tujuan itu tak lain adalah ketenangan. Bagaimana kita mencari sebuah ketenangan dalam hidup. Bahkan bisa saja kita membuat ketenangan untuk orang lain dengan hal-hal positif yang kita lakukan. Semua tulisan ini adalah murni opini saya pribadi sebagai seorang awam, jadi silakan berikan komentar yang berupa saran dan kritik jika ada kata atau kalimat yang seharusnya tidak ada dalam tulisan ini.

Salam Creatif, Keep Sharing and caring!


Kamis, 30 November 2017

Bermain Layang-layang Bukan Sekedar Ulur Tarik Benang

Illustrasi oleh @upangman

Nostalgia masa kecil memang sangat menyenangkan. Banyak hal yang sering kita lakukan, namun memiliki pengajaran yang kita bisa petik saat dewasa. Kita senang dan gembira bermain berbagai macam permainan, salah satunya bermain layangan. Kita memiliki berbagai peran dalam permainan ini. Ada seseorang yang pintar dan creative membuat layangan sendiri dengan tekun dan perhitungan yang matang. Rasa senang dan gembira akan harapan layangan bisa terbang tinggi membuat kita tak sadar menyanyikan sebuah lagu yang menyemangati hati.

"Kuambil buluh sebatang
Kupotong sama panjang
Kuraut dan kutimbang dengan benang
Kujadikan layang-layang"

Pada lirik ini seseorang dengan usaha dan tekadnya sangat bersemangat membuat layangan dengan perhitungan yang detail. Ini mengajarkan saya pribadi untuk memiliki sebuah tekad dan kematangan dalam melakukan sesuatu hal. Benar-benar dengan perhitungan dan ketelitian, sehingga adil dalam berbagai keadaan serta memandang dari berbagai sudut pandang. Dengan begitu kita bisa memutuskan untuk memulai sesuatu dengan hasil yang benar-benar diharapkan.

"Bermain, berlari
Bermain layang-layang
Berlari kubawa ke tanah lapang
Hatiku riang dan senang"

Lirik tersebut mengajarkan kepada saya, seseorang yang telah memulai sesuatu harus dengan semangat dan usaha yang penuh. Mengarahkan semua usahanya ke jalan yang benar-benar diridhoi. Dengan semangat dan tujuan itu tentunya setiap usaha akan membuat kita senang dan hatipun tenang. Pada tahap ini  seseorang juga membutuhkan partner untuk berlari dan bermain. Kadang kala ketika bermain akan ada angin besar, bahkan tidak ada angin yang membuat layangan atau usaha kita tidak terbang sesuai keinginan.

Ketika sudah jadi kita bermain dengan senang melihat layangan terbang tinggi. Seseorang diharuskan menarik ulur benang yang menjadi gantungan layangannya. Dalam proses ini seseorang membutuhkan perkiraan yang sangat matang dengan membaca angin. Semakin tinggi layangan semakin besar pula angin yang menghempasnya. Hanya ada dua pilihan, membiarkan layangan ada di posisinya atau mengulur benang lagi agar lebih tinggi. Karena jika ditarik maka putuslah benang dan layang akan terbawa derasnya angin. Belum jika dia takut petir maka musnahlah harapan untuk bermain layangan.

Ketika putuspun seseorang pemain diharapkan mempunyai hati yang lapang. Mengikhlaskan layangannya terbawa angin dan direbut oleh teman-temannya yang sama bermain. Nasip baik jika kita ikut mengejar dan mendapatkan kembali layang yang sudah terputus. Dalam hal inipun saya memetik pengajaran, bahwa dalam sebuah usaha kita harus siap gagal dan terjatuh. Hanya dua kemungkinan, kita bangkit lagi dengan harapan yang lama atau membuat usaha baru dengan semangat yang sama.

Itulah pengajaran dalam bermain layangan. Seseorang memulai sesuatu, dia juga harus siap dengan resiko yang akan dihadapi. Sebagai seorang yang bekerja di dunia creative saya dituntut untuk memiliki gagasan dan ide yang fresh. Saya juga harus mengerti akan resiko ide dan gagasan di jiplak orang lain, bahkan bisa saja orang lain mengklaim saya yang menjiplak ide dan gagasannya. Itu salah satu contoh resiko dalam bekerja yang kita ambil pengajaran dari bermain layangan.

Dalam dunia asmarapun seseorang juga diharapkan belajar dalam proses bermain layangan. Saya tidak ingin mengambil pengajaran dari membuat layangan ketika mencontohkan asmara, karena setiap orang memiliki proses yang berbeda. Namun saya akan mengambil proses kita dalam bermain. Karena dalam proses inilah seseorang bisa memperhatikan lakunya. Lihatlah ketika dua orang mencoba menaikkan layangan, ada yang membawa benang dan ada yang memegang layangan. Dalam asmara dibutuhkan dua orang yang sama-sama satu visi, menaikkan layangan. Setelah naikpun peran mereka masih terlihat walaupun tidak sepenting ketika menaikkan. Ketika sudah naik ada seseorang yang menjaga dan membuat layangan semakin tinggi. Sedangkan yang lainnya menunggu gantian untuk mencoba mengulur tarik benang agar layangan stabil di udara. Salah satu cara mereka berbeda dalam bermain, maka jatuhlah resiko yang di dapat. Ini sungguh pengajaran bagi saya dalam asmara agar memiliki komitmen yang sama untuk menjaga layangan tetap pada posisinya. Dalam tahap inipun akan sering terjadi cek cok antara dua orang ini. Ada yang ingin menaikkan lebih tinggi, ada pula yang ingin tetap ditempat atau bahkan menurunkan layangan karena perhitungan tertentu. Itulah hubungan asmara, kadang diulur kadang dibiarkan pada tempatnya kadangpula ditarik.

Belajarlah dari hal-hal yang terlihat namun tak tersurat. Banyak pengajaran yang bisa kita petik dari sana. Tentunya setiap orang memiliki sudut pandangnya masing-masing, namun tanyalah dirimu pantaskah layangan ini diundur, ditarik atau dibiarkan pada tempatnya menunggu angin besar menerpa dan menghanyutkannya atau menunggu angin hilang dan membuat terjatuh? Itulah tugas seorang ALAY (Anak Layangan) membuat manuver taril undur untuk membuat layangannya tetap ada di atas sana. Jikapun malam tiba dan waktumu bermain usai, maka gulunglah benangnya dan akhiri permainan itu atau ikatlah ditiang dan biarkan bermalam mengharapkan angin harapan membuat layangan terus pada tempatnya sampai esok hari.

Semua ada ditanganmu, tentukan dan lepaskan semua beban pikiran mu. Semua yang terkadi pasti ada hikmah yang akan membuat kamu terus kuat menjadi pemain yang hebat.

Minggu, 08 Oktober 2017

Wisata Dalam Perspektif Pribadi Saya Seperti Kebun, Kumbang dan Bunga

Shoot by Me @upangman

Pariwisata dalam sudut pandang seorang awan seperti saya tidak jauh berbeda dengan ekosistem kebun dimana di dalamnya ada kumbang dan bunga. Kebun saya lihat sebagai wilayah wisata, bunga saya anggap destinasi di wilayah tersebut dan kumbang pemilik atau investor yang mengelola destinasi. Ekosistem ini tidak akan berjalan dengan baik dan benar jika salah satu dari ekosistem ini tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Kebun butuh bunga untuk memberikan hasil yang bisa dinikmati si pemilik. Begitu juga dengan bunga yang membutuhkan kumbang untuk membantu perkembangannya. Jika masing-masing mereka melaksanakan fungsinya dengan baik, maka pemilik kebun akan mendapatkan keuntungan yang diharapkan.

Dalam pembukaan kebun baru dan mencoba peruntungan dengan bercocok tanam oleh pemilik tentunya hal pertama yang dilakukan adalah memberi perhatian penuh. Perhatian ini tentunya akan menguras tenaga dan pastinya banyak alat serta prasarana lain yang harus disiapkan. Sebagai pemilik kebun yang ingin mendapatkan hasil dengan bercocok tanam saya akan membajak lahan, menyiapkan bibit dan tentunya pupuk untuk merawat tanaman. Bayangkan jika salah satu hal tersebut saya tidak lakukan, pastinya tidak akan berjalan apa yang saya lakukan karena kurangnya syarat dan rukun dalam bercocok tanam. Setelah semuanya lengkap, saya akan membutuhkan yang namanya faktor alam seperti cuaca dan mahluk tuhan bernama kumbang atau serangga yang akan membantu proses penyerbukan tanaman saya.

Melihat dengan perspektif ini membuat saya tidak mungkin untuk mencegah serangga atau kumbang yang bisa membantu proses perkembangan tanaman saya. Dengan menyadari semua ini saya tidak mungkin membunuh serangga ataupun melindungi tanaman saya dari serangga atau kumbang yang membantu proses perkembangan usaha saya. Kembali ke sudut normal mengenai wisata dan hiruk pikuk yang ada di dalamnya. Sebuah wilayah yang masih dalam proses mengembangkan potensi wisata sangat disayangkan mendapat berbagai kritik dan hujatan dari mereka yang katanya para pemilik atau pribumi. Destinasi yang bermunculan seolah-olah menjadi kemelut bagi mereka yang menyebut diri para pemerhati. Semua kasus mereka munculkan ke permukaan ketika melihat gembar-gembor pemerintah membangun wisata sebagai jalan untuk pemerataan ekonomi. Sebagai seorang awam tentunya saya harus melihat dari banyak sudut pandang, namun niatan ingin menurunkan pamor wisata sangat akan saya hindari. Masih banyak cara untuk memberikan rasa keadilan kepada warga disekitar destinasi.

Sekelompok orang seperti ini saya melihat sebagai sekumpulan pupuk yang ditaruh bukan pada tempatnya. Pastinya kita akan tahu apa jadinya jika pupuk tidak ditaruh pada tempatnya. Tidak akan memberikan manfaat, bahkan bisa merugikan sang pemilik kebun karena pupuknya mubazir.

Kebun indah dengan bunga semerbak mewangi dimana-dimana yang diharapkan oleh pemilik. Dan semuanya kita butuhkan kumbang yang bisa membantu proses penyerbukan dan perkembangan bunga. Kita tidak mengaharapkan adanya hama dan pupuk yang terbuang sia-sia. Kita ingin semuanya berjalan sesuai fungsi masing-masing. Jika ada yang menyimpang, tetap masih ada yang akan menjalankan tugasnya dengan baik. Sebagai seorang pemilik kebun kita hanya bertugas menjaga, merawat dan memperhatikan bunga ataupun tanaman yang kita kelola. Perkara jualan kita serahkan kepada pedagang dan bagian yang mengurusinya. Seorang petani yang sukses adalah dia yang mengelola kebun sawahnya dengan baik dan bijaksana serta memberikan ruang kerjasama yang seluas-luasnya dengan pedagang.

Entah tulisan apa yang saya buat ini, namun saya berharap dengan tulisan ini bisa memberikan pandangan berbeda ke diri saya pribadi dalam menyikapi semua kasus pariwisata yang ada di Gumi Paer tercinta. Menuju wisata yang sukses dan bermanfaat sangat dibutuhkan Simbiosis Mutualisme, yaitu kerjasama yang saling menguntungkan antar pelaku wisata. Dalam proses berkembang kita tidak butuh hama, melainkan kita butuh unsur hara dan pupuk untuk tetap menjaga keberlangsungan wisata ini. Saya ingin sekali menyampaikan kepada mereka yang memposisikan diri mereka sebagai pemerhati yang katanya korban pariwisata. Dari sudut pandang mana mereka melihat adanya korban dan pelaku? Siapa yang korban dan siapa yang pelaku? Apakah dalam pikiran mereka korban wisata itu mereka yang mengais-ngais rezeki dengan alat seadanya di wilayah destinasi? Ataukah mereka yang menjual lahannya dikarenakan ketidaktahuan akan persaingan? Dan siapa yang akan mengaku sebagai pelaku? Apakah mereka yang ingin membangun ekonomi sekitar atau kelompoknya? Apakah mereka yang hanya corat-coret tinta hitam di kertas putih itu? Siapa korban siapa pelaku?

Ketika destinasi digenjot promosinya dan segelintir kelompok menaikkan kejelekkannya? Siapa yang berbuat benar dan siapa yang salah? Ketika para muda-mudi bersemangat menggunakan media sosial mereka memperkenalkan destinasi unggulan daerahnya, namun ada sebagian kelompok lainnya ingin hal yang berbeda dengan mengangkat kekurangan dan kasus di destinasi yang ada. Dari semua itu siapa yang akan membantu masyarakat?

Tidakkah terlintas dalam pikiran kita semua, bahwa ketika destinasi terkenal dan kita merawat menjaganya dengan bagus pasti akan menguntungkan masyarakatnya? Dalam sudut pandang sebagai orang awam saya melihat tidak ada yang namanya korban pariwisata. Yang ada hanya mereka yang berpikir cepat dan berpikir kedepan. Cepat dalam bertindak dan berpikir untuk masa akan datang. Bukan mereka yang menjual lahan karena faktor perut. Lahan mereka jual semua, ketika menjadi tempat yang bagus mereka posisikan diri sebagai korban? Ketika tempat ramai dan dikelola pihak lain mereka berebut ingin mengais rezeki ditempat itu dan menjadikan diri mereka korban? Melihat sandiwara dan carut marut ini saya senyum sinis dengan mereka yang katanya korban pariwisata. Memang saya tidak berada di posisi yang saat ini mereka rasakan. Namun jika saya berada di posisi mereka maka saya akan menempatkan diri sebagai pemilik atau pengelola bukan penjual.

Dari tulisan ini saya berharap kita semua bisa melihat dari berbagai sudut pandang. Tidak elok menghujat sesuatu hanya karena melihat dari sudut yang berbeda. Dan saya berharap kita tidak hanya melempar sampah sembarangan, namun bisa ikut serta dalam mencegah penyebaran sampah. Baik itu sampah pikiran, sampah opini, sampah adudomba.
Sekian tulisan saya yang tidak jelas ini, semoga pesannya tersampai pada anda yang membacanya. Bahwa wisata adalah kewajiban kita bersama untuk peduli menjaga perkembangannya. Tempatkan diri sebagai seorang pemilik dan pengelola jangan jadi penjual di Gumi Paer ini.




#diariku #wisata

Sabtu, 30 September 2017

From Bali To Lombok, Perjalanan Penuh Hikmah

Tepat di akhir bulan September 2017, kisah perjalanan from Bali to Lombok dimulai. Cuaca di pusat pulau dewata masih cerah, walaupun tampak mendung di sudut timur. Pekerjaan menambah portfolio untuk client saya hentikan ketika meja bergetar. Telpon berbunyi, menandakan saya harus mengangkatnya. Suara tegar dan lembut kudengar, namun sayang telinga ini mendapat kata yang tidak saya percaya. Secara sepontan kalimat itu terkirim ke otak diteruskan ke jantung. Deg, deg, deg . . Tiba nafas saya seperti berat, suara yang tegar dan lembut itu membuat otak ini kosong tidak bisa berpikir lagi, yang ada hanya tertuju ke tempat jauh di seberang laut sana, Lombok.

Apa yang didengar telinga ini berusaha tidak percaya, namun jantung ini terus berdetak kencang seakan meyakinkan kalimat yang disampaikan oleh telinga. Saya berkemas dan menyiapkan segala keperluan. Bismillah, Lombok saya datang. Gunung Agung yang masih murung dan batuk-batuk tak menyurutkan langkah saya ke pulau seribu masjid tanah kelahiran.

Matahari sudah mulai pamitan menandakan waktu untuk rehat dari aktivitas. Terlihat beberapa warga bergurau satu sama lain. Ada juga para pemuda dan pemudi berpakaian adat mengumpulkan sedikit harapan untuk saudara yang terkena dampak Gunung Agung. Motor matic hitam mulai menyala dan berjalan seiring tarikan gas anak rantau. Ku satukan niat, mencoba terus tegar agar bisa menemui pemilik suara tegar dan lembut itu.

Perjalananku memakan waktu 90 menit untuk sampai di tol laut antara Bali dan Lombok. Perjalanan kali ini memang penuh hikmah, ku temui teman dari Lombok yang sama tujuan dengan saya, namun niat berbeda. Mereka pulang akan menemui sahabat yang akan menikah. Sedangkan saya ingin menemui pemilik suara yang membuat jantung ini berdebar. Lama menunggu panggilan TOA, saya dihampiri seorang nenek membawa bakul berisi dua bungkus salak yang mungkin bisa dibilang tidak layak. Namun suaranya yang memelas meluluhkan hati ini untuk menggerakkan tangan mengambil rupiah dengan empat angka nol. Bismillah, saya anggap sedekah untuk beliau. Jalannya yang renta menandakan dia sudah lanjut usia. Tak ada lagi alasan untuk menolah tawarannya. Ku ambil sekantong putih salak sisa dan ku ucap, "hati-hati dijalan nek"

Waktu sudah semakin larut, bintang-bintang mulai bermunculan menghiasi langit sebelah tenggara. Panggilan suara TOA datang menandakan saya akan segera menuju Lombok. Tibalah giliran saya untuk memberikan kartu bertuliskan tiket penyebrangan kepada petugas. Ku parkir motor matic hitam di tepi lambung kapal besi itu. Tiba di tempat istirahat dan ku sapa salah satu penumpang. Entah kejadian ini memang kebetulan atau Tuhan sedang memberikan saya pengajaran. Tanpa basa basi panjang si penumpang curhat tentang istrinya yang sudah dua bulan tidak ada kabar. Obrolan kami semakin intim sampai dia kelihatan bingung harus bagaimana lagi. Dia satu tujuan dengan saya ke Lombok, bercerita ke Bali untuk mencari sang istri namun apa daya dia hanya balik dengan sadel kosong di belakang motornya. Terlihat badan dan tangannya yang besar dan berisi, menandakan seorang pekerja keras untuk anak kandung dan anak tirinya di pulau Jawa. Saya yang masih belum banyak makan asam garam hidup ini hanya bisa mengambil hikmah dari kejadian yang menimpanya. Semoga kelak saya bisa menjaga rumah tangga dan keluarga. Itulah harapan saya dari cerita seorang rantau yang mati perasaan akibat wanita.

Jam sudah melewati angkan dua belas, saya pamit untuk menghirup udara dinihari di tengah lautan Selat Bali. Dalam kesendirian ku tatap bintang dengan gerakan kapal yang tidak setabil. Ku berusaha berpikir jernih, memikirkan kejadian demi kejadian yang saya alami dalam perjalanan ini. Dalam kesendirian itu saya tak lupa berkirim Al-Fatihah buat almarhum ayahanda orang yang lembut suaranya itu. Insya Allah almarhum akan dicatat sebagai hamba yang soleh dan mengetahui Tuhannya.

Hidup mati hanya Allah Tuhan seru sekalian alam yang menentukan. Kapan kita senang, kapan susah dan kapan bisa berbuat baik kepada sesama. Semua tidak luput dari ikut campurNya. Manusia hanya bisa menjalani dan berusaha menjadi khalifah yang baik di muka bumi ini.

Akhir kata selamat datang di Lombok, tanah gumi paer yang jadi rebutan dan primadona. Tarikan nafas panjang bersyukur bisa menginjakkan kaki di pelabuhan Lembar. Bismillah, segala kejadian ada hikmahnya. Tinggal kita bisa atau mau berpikir dan mengambil hikmah di dalamnya. Alhamdulillah kepada Allah Tuhan seru sekalian alam.

Jumat, 22 September 2017

Lombok Pulau Cantik Nan Indah Yang Bermetamorfosis dari Mereka Yang Bermetamorfosis

Illustrasi oleh: @upangman

Lombok pulau cantik nan indah yang ada di Tenggara Barat Indonesia. Keindahannya membuat berbagai benua terpikat meminangnya. Tentunya dengan bermacam cara mereka lakukan, seperti menjadi si peduli sampai menyamar menjadi penghuninya. Anak pulau yang ada di Lombok sudah dipinang berbagai macam benua, entah dari Asia, Eropa bahkan sampai Amerika dan Australia. Pernyataan ini saya sampaikan karena memang banyaknya berdiri petakan-petakan beton yang dimiliki oleh benua-benua itu. Bukan hanya anak pulau, bahkan bibir pantainya yang elok dan selalu basah oleh hempasan ombak tak luput dari petakan-petakan mereka. Bermodal berbagai petuah dan kebijakan yang di kuatkan dengan tinta hitam di atas kertas putih itu. Iya itulah mereka yang haus akan materi, ibarat kupu-kupu yang singgah ke bunga untuk melanjutkan metamorfosisnya. Memang sudah suratan takdir kupu-kupu akan hingga di bunga dan mencari sarimadu untuk bertahan hidup. Namun di sisi lain selain kupu-kupu juga ada mahluk tuhan yang ingin menikmati bunga nan indah ini. Hanya saja mereka hanya mendapat keteduhan atau hanya remah-remah bunga yang sudah dihisap sang kupu-kupu. Belum lagi ketika tiba mahluk lain yang hidup menghancurkan habis dedaunan sang bunga. Iya, itu memang takdir dan jalannya proses metamorfosis mahluk. Tidak ada yang bisa memungkiri itu, jadi saya lanjutkan lagi untuk menikmati rangkaian kejadian besar ini.

Lagi-lagi saya berdecak kagum, melihat ke arah timur pasak bumi yang megah dan membuktikan lagi keindahan dan rayuan pulau Lombok ku. Warnanya yang biru dari kejauhan membuat mata ini terbawa ke kaki pasak Bumi yang termegah ke dua di Nusantara. Saya memandang lagi ke arahnya, namun tak sampe mata memandang puncaknya sudah dihalangi oleh kabut dan asap. Ternyata itu dari aktivitas mahluk bernama pribumi yang ada di sekitar sang Pasak Bumi. Saya coba lihat lagi lebih jelas, dari mereka terdengar hiruk pikuk untuk mendapatkan haknya. Membuat remah-remah dari ulat dan kupu-kupu itu berarti untuk kelangsungan hidup mereka. Namun apa daya mereka pribumi yang hidup dengan menggarap dan memanfaatkan alam mereka terusir karena lembaran putih bertinta hitam. Mencoba terus mengambil garis tengah masalah ini, ternyata fokus saya tertuju dengan proses metamorfosis yang sedang berlangsung. Lagi dan lagi saya hanya bisa tersenyum dan menghela nafas, ini memang sudah bagian metamorfosis. Kita tidak bisa merusak metamorfosis ini, biarkan saja dia berproses sampe tingkat terakhir dan pada akhirnya hilang dan mulai yang baru.

Saya berharap dengan berjalannya metamorfosis si kupu-kupu dan si ulat ini, pulauku juga bisa bermetamorfosis menjadi pulau yang baldatun thoyyibun wa robbun gofhur. Pulau yang menjadi pusat perhatian benua-benua bahkan dunia yang mencintai si pribumi di dalamnya. Mengalirkan sari-sari kehidupan bukan remah-remah dari si kupu-kupu dan si ulat. Aamiin ya robbal alamin.

Harapan saya itu akan menjadi nyata suatu saat nanti, sehingga saya dan para pribumi yang sedang memperhatikan pulau cantik ini bisa menikmati dari dalam bukan mengamati dari luar saja. Curahan dukungan akan saya berikan untuk pulau cantik ini. 

Pribumimu akan tetap pulang walaupun dibuang,
Pribumimu akan pulang untuk diberikan kasih sayang,
Bersabarlah pulauku,
Kuatlah pulauku,
Pasak Bumimu terlalu besar untuk diruntuhkan,
Masih banyak pribumimu yang mengerti
Tanpa mengharap materi,
Biarlah Pribumimu mengamatimu dari jauh sana,
Nanti saatnya tiba akan Pribumimu  belai dengan kasih sayang dari dalam sana.


Suparman

Kamis, 21 September 2017

Enam Fitur Keren Yang Bisa Dinikmati Pengguna Xiaomi di MIUI 9



Xiaomi dalam peluncuran produk terbarunya Mi5x 26 Juli telah mencoba MIUI 9 dengan sistem operasi Android Nougat 7.0 . Namun di Indonesia secara official belum ada tanda-tanda update terbaru dari system terbaru besutan Xiaomi ini. Pada bulan ini diinfokan India kebagian update terbaru dari MIUI 9. Banyak para penggila Xiaomi sudah memasang versi BETA dari User Interface terbaru Xiaomi ini. Banyak diantara mereka mengeluhkan beberapa fungsi yang tidak bisa berjalan dengan baik seperti sinyal 4G hilang. Karena dari Xioami Indonesiapun belum mengeluarkan update terbaru untuk MIUI 9 ini, jadi akan memakan waktu untuk menunggu lebih lama lagi.

Jika kalian ingin update MIUI 9, berikut enam fitur yang ada di tampilan baru Xiaomi ini. Ini saya dapatkan dari MIUI Forum resmi Xiaomi.

1. Split Screen

Fitur Split Screen ini memungkin anda multitasking dengan membuka beberapa aplikasi sekaligus dalam satu layar. Ini seperti fitur yang ada di windows dimana anda bisa bekerja atau membuka 2 aplikasi dalam satu layar. Pastinya dengan fitur ini anda akan dipermudah dan tidak perlu menekan tombol option untuk berpindah ke aplikasi lainnya.
Split Screen MIUI 9

2. IMAGE search

Image Search sering kita kenal dalam fitur pencarian gambar yang ada di google image. Jika anda sering menggunakan fitur google tersebut, maka kurang lebih seperti itu yang ada di Image Search. Dengan mencocokkan atau memasukkan gambar kepala atau muka seseorang atau gambar lainnya anda bisa mendapatkan info gambar tersebut di smartphone anda. Saya sendiri belum mencoba tampilan MIUI ini, namun akan sangat mengasikkan dan mempermudah kita dalam pencarian gambar.

3. LIVE icons.

Dalam MIUI 8 sudah banyak sekali icon bagus dan menarik. Namun dalam MIUI 9 ini ditambahkan lagi efek transisi yang keren di menu utama, sehingga icon menu smartphone ini terlihat lebih hidup. 


4. Lightning FAST

Fitur ini merupakan update dari pihak Xioami karena banyaknya pengguna yang klaim smartphone ini boros RAM dan system. Oleh karena itu diharapa dengan fitur ini akan memperingan kinerja smartphone andalan kalian. 

5. Homescreen ASSISTANT

Dalam rilisnya melalui forum MIUI, fitur ini digunakan untuk mempermudah user dalam mengakses aplikasi yang ada di Xiaomi. Anda hanya menggeser ke kanan layar anda dari menu utama. Dengan itu anda dengan mudah mengatur aplikasi, catatan dan jadwal yang ada. Dengan fitur ini anda tidak perlu lagi mencari aplikasi tertentu untuk memulai setting anda.

6. MIUI labs
Fitur ini memungkinkan pengguna Xiaomi untuk mencoba fitur yang masih diujicoba alias BETA. Anda akan mendapatkan list fitur yang dalam pengembangan dan bisa anda jalankan di smartphone anda.


Namun tidak semua type Xiaomi bisa update ke MIUI 9, berikut beberapa type yang akan bisa update MIUI 9 :

Xiaomi Mi 6, Mi 5x, Redmi Note 4
Xiamoi Mi Max/Max 2, Mi Mix
Mi 5/5s/5s Plus/Mi 5c/Mi 4s/4c
Redmi 1/1s, Redmi 2 Prime/2A, Redmi 3/3s Prime
Redmi 4/4X/4A/4 Prime
Xiaomi Redmi Note/2/3/4/4X
Mi Pad/ Pad 2
Mi Note/ Note 2/ Note Pro

Jika smartphone xiaomi kalian type yang ada di list, silakan dicoba user interface terbaru dari Xiaomi ini. namun yang ada di Indonesi sedikit bersabar, karena saya cek sampai update artikel ini juga belum ada pembaharuan untuk perangkat yang saya pakai yaitu Xiaomi Redmi 3s.