Sabtu, 30 September 2017

From Bali To Lombok, Perjalanan Penuh Hikmah

Tepat di akhir bulan September 2017, kisah perjalanan from Bali to Lombok dimulai. Cuaca di pusat pulau dewata masih cerah, walaupun tampak mendung di sudut timur. Pekerjaan menambah portfolio untuk client saya hentikan ketika meja bergetar. Telpon berbunyi, menandakan saya harus mengangkatnya. Suara tegar dan lembut kudengar, namun sayang telinga ini mendapat kata yang tidak saya percaya. Secara sepontan kalimat itu terkirim ke otak diteruskan ke jantung. Deg, deg, deg . . Tiba nafas saya seperti berat, suara yang tegar dan lembut itu membuat otak ini kosong tidak bisa berpikir lagi, yang ada hanya tertuju ke tempat jauh di seberang laut sana, Lombok.

Apa yang didengar telinga ini berusaha tidak percaya, namun jantung ini terus berdetak kencang seakan meyakinkan kalimat yang disampaikan oleh telinga. Saya berkemas dan menyiapkan segala keperluan. Bismillah, Lombok saya datang. Gunung Agung yang masih murung dan batuk-batuk tak menyurutkan langkah saya ke pulau seribu masjid tanah kelahiran.

Matahari sudah mulai pamitan menandakan waktu untuk rehat dari aktivitas. Terlihat beberapa warga bergurau satu sama lain. Ada juga para pemuda dan pemudi berpakaian adat mengumpulkan sedikit harapan untuk saudara yang terkena dampak Gunung Agung. Motor matic hitam mulai menyala dan berjalan seiring tarikan gas anak rantau. Ku satukan niat, mencoba terus tegar agar bisa menemui pemilik suara tegar dan lembut itu.

Perjalananku memakan waktu 90 menit untuk sampai di tol laut antara Bali dan Lombok. Perjalanan kali ini memang penuh hikmah, ku temui teman dari Lombok yang sama tujuan dengan saya, namun niat berbeda. Mereka pulang akan menemui sahabat yang akan menikah. Sedangkan saya ingin menemui pemilik suara yang membuat jantung ini berdebar. Lama menunggu panggilan TOA, saya dihampiri seorang nenek membawa bakul berisi dua bungkus salak yang mungkin bisa dibilang tidak layak. Namun suaranya yang memelas meluluhkan hati ini untuk menggerakkan tangan mengambil rupiah dengan empat angka nol. Bismillah, saya anggap sedekah untuk beliau. Jalannya yang renta menandakan dia sudah lanjut usia. Tak ada lagi alasan untuk menolah tawarannya. Ku ambil sekantong putih salak sisa dan ku ucap, "hati-hati dijalan nek"

Waktu sudah semakin larut, bintang-bintang mulai bermunculan menghiasi langit sebelah tenggara. Panggilan suara TOA datang menandakan saya akan segera menuju Lombok. Tibalah giliran saya untuk memberikan kartu bertuliskan tiket penyebrangan kepada petugas. Ku parkir motor matic hitam di tepi lambung kapal besi itu. Tiba di tempat istirahat dan ku sapa salah satu penumpang. Entah kejadian ini memang kebetulan atau Tuhan sedang memberikan saya pengajaran. Tanpa basa basi panjang si penumpang curhat tentang istrinya yang sudah dua bulan tidak ada kabar. Obrolan kami semakin intim sampai dia kelihatan bingung harus bagaimana lagi. Dia satu tujuan dengan saya ke Lombok, bercerita ke Bali untuk mencari sang istri namun apa daya dia hanya balik dengan sadel kosong di belakang motornya. Terlihat badan dan tangannya yang besar dan berisi, menandakan seorang pekerja keras untuk anak kandung dan anak tirinya di pulau Jawa. Saya yang masih belum banyak makan asam garam hidup ini hanya bisa mengambil hikmah dari kejadian yang menimpanya. Semoga kelak saya bisa menjaga rumah tangga dan keluarga. Itulah harapan saya dari cerita seorang rantau yang mati perasaan akibat wanita.

Jam sudah melewati angkan dua belas, saya pamit untuk menghirup udara dinihari di tengah lautan Selat Bali. Dalam kesendirian ku tatap bintang dengan gerakan kapal yang tidak setabil. Ku berusaha berpikir jernih, memikirkan kejadian demi kejadian yang saya alami dalam perjalanan ini. Dalam kesendirian itu saya tak lupa berkirim Al-Fatihah buat almarhum ayahanda orang yang lembut suaranya itu. Insya Allah almarhum akan dicatat sebagai hamba yang soleh dan mengetahui Tuhannya.

Hidup mati hanya Allah Tuhan seru sekalian alam yang menentukan. Kapan kita senang, kapan susah dan kapan bisa berbuat baik kepada sesama. Semua tidak luput dari ikut campurNya. Manusia hanya bisa menjalani dan berusaha menjadi khalifah yang baik di muka bumi ini.

Akhir kata selamat datang di Lombok, tanah gumi paer yang jadi rebutan dan primadona. Tarikan nafas panjang bersyukur bisa menginjakkan kaki di pelabuhan Lembar. Bismillah, segala kejadian ada hikmahnya. Tinggal kita bisa atau mau berpikir dan mengambil hikmah di dalamnya. Alhamdulillah kepada Allah Tuhan seru sekalian alam.