Minggu, 08 Oktober 2017

Wisata Dalam Perspektif Pribadi Saya Seperti Kebun, Kumbang dan Bunga

Shoot by Me @upangman

Pariwisata dalam sudut pandang seorang awan seperti saya tidak jauh berbeda dengan ekosistem kebun dimana di dalamnya ada kumbang dan bunga. Kebun saya lihat sebagai wilayah wisata, bunga saya anggap destinasi di wilayah tersebut dan kumbang pemilik atau investor yang mengelola destinasi. Ekosistem ini tidak akan berjalan dengan baik dan benar jika salah satu dari ekosistem ini tidak menjalankan tugasnya dengan baik. Kebun butuh bunga untuk memberikan hasil yang bisa dinikmati si pemilik. Begitu juga dengan bunga yang membutuhkan kumbang untuk membantu perkembangannya. Jika masing-masing mereka melaksanakan fungsinya dengan baik, maka pemilik kebun akan mendapatkan keuntungan yang diharapkan.

Dalam pembukaan kebun baru dan mencoba peruntungan dengan bercocok tanam oleh pemilik tentunya hal pertama yang dilakukan adalah memberi perhatian penuh. Perhatian ini tentunya akan menguras tenaga dan pastinya banyak alat serta prasarana lain yang harus disiapkan. Sebagai pemilik kebun yang ingin mendapatkan hasil dengan bercocok tanam saya akan membajak lahan, menyiapkan bibit dan tentunya pupuk untuk merawat tanaman. Bayangkan jika salah satu hal tersebut saya tidak lakukan, pastinya tidak akan berjalan apa yang saya lakukan karena kurangnya syarat dan rukun dalam bercocok tanam. Setelah semuanya lengkap, saya akan membutuhkan yang namanya faktor alam seperti cuaca dan mahluk tuhan bernama kumbang atau serangga yang akan membantu proses penyerbukan tanaman saya.

Melihat dengan perspektif ini membuat saya tidak mungkin untuk mencegah serangga atau kumbang yang bisa membantu proses perkembangan tanaman saya. Dengan menyadari semua ini saya tidak mungkin membunuh serangga ataupun melindungi tanaman saya dari serangga atau kumbang yang membantu proses perkembangan usaha saya. Kembali ke sudut normal mengenai wisata dan hiruk pikuk yang ada di dalamnya. Sebuah wilayah yang masih dalam proses mengembangkan potensi wisata sangat disayangkan mendapat berbagai kritik dan hujatan dari mereka yang katanya para pemilik atau pribumi. Destinasi yang bermunculan seolah-olah menjadi kemelut bagi mereka yang menyebut diri para pemerhati. Semua kasus mereka munculkan ke permukaan ketika melihat gembar-gembor pemerintah membangun wisata sebagai jalan untuk pemerataan ekonomi. Sebagai seorang awam tentunya saya harus melihat dari banyak sudut pandang, namun niatan ingin menurunkan pamor wisata sangat akan saya hindari. Masih banyak cara untuk memberikan rasa keadilan kepada warga disekitar destinasi.

Sekelompok orang seperti ini saya melihat sebagai sekumpulan pupuk yang ditaruh bukan pada tempatnya. Pastinya kita akan tahu apa jadinya jika pupuk tidak ditaruh pada tempatnya. Tidak akan memberikan manfaat, bahkan bisa merugikan sang pemilik kebun karena pupuknya mubazir.

Kebun indah dengan bunga semerbak mewangi dimana-dimana yang diharapkan oleh pemilik. Dan semuanya kita butuhkan kumbang yang bisa membantu proses penyerbukan dan perkembangan bunga. Kita tidak mengaharapkan adanya hama dan pupuk yang terbuang sia-sia. Kita ingin semuanya berjalan sesuai fungsi masing-masing. Jika ada yang menyimpang, tetap masih ada yang akan menjalankan tugasnya dengan baik. Sebagai seorang pemilik kebun kita hanya bertugas menjaga, merawat dan memperhatikan bunga ataupun tanaman yang kita kelola. Perkara jualan kita serahkan kepada pedagang dan bagian yang mengurusinya. Seorang petani yang sukses adalah dia yang mengelola kebun sawahnya dengan baik dan bijaksana serta memberikan ruang kerjasama yang seluas-luasnya dengan pedagang.

Entah tulisan apa yang saya buat ini, namun saya berharap dengan tulisan ini bisa memberikan pandangan berbeda ke diri saya pribadi dalam menyikapi semua kasus pariwisata yang ada di Gumi Paer tercinta. Menuju wisata yang sukses dan bermanfaat sangat dibutuhkan Simbiosis Mutualisme, yaitu kerjasama yang saling menguntungkan antar pelaku wisata. Dalam proses berkembang kita tidak butuh hama, melainkan kita butuh unsur hara dan pupuk untuk tetap menjaga keberlangsungan wisata ini. Saya ingin sekali menyampaikan kepada mereka yang memposisikan diri mereka sebagai pemerhati yang katanya korban pariwisata. Dari sudut pandang mana mereka melihat adanya korban dan pelaku? Siapa yang korban dan siapa yang pelaku? Apakah dalam pikiran mereka korban wisata itu mereka yang mengais-ngais rezeki dengan alat seadanya di wilayah destinasi? Ataukah mereka yang menjual lahannya dikarenakan ketidaktahuan akan persaingan? Dan siapa yang akan mengaku sebagai pelaku? Apakah mereka yang ingin membangun ekonomi sekitar atau kelompoknya? Apakah mereka yang hanya corat-coret tinta hitam di kertas putih itu? Siapa korban siapa pelaku?

Ketika destinasi digenjot promosinya dan segelintir kelompok menaikkan kejelekkannya? Siapa yang berbuat benar dan siapa yang salah? Ketika para muda-mudi bersemangat menggunakan media sosial mereka memperkenalkan destinasi unggulan daerahnya, namun ada sebagian kelompok lainnya ingin hal yang berbeda dengan mengangkat kekurangan dan kasus di destinasi yang ada. Dari semua itu siapa yang akan membantu masyarakat?

Tidakkah terlintas dalam pikiran kita semua, bahwa ketika destinasi terkenal dan kita merawat menjaganya dengan bagus pasti akan menguntungkan masyarakatnya? Dalam sudut pandang sebagai orang awam saya melihat tidak ada yang namanya korban pariwisata. Yang ada hanya mereka yang berpikir cepat dan berpikir kedepan. Cepat dalam bertindak dan berpikir untuk masa akan datang. Bukan mereka yang menjual lahan karena faktor perut. Lahan mereka jual semua, ketika menjadi tempat yang bagus mereka posisikan diri sebagai korban? Ketika tempat ramai dan dikelola pihak lain mereka berebut ingin mengais rezeki ditempat itu dan menjadikan diri mereka korban? Melihat sandiwara dan carut marut ini saya senyum sinis dengan mereka yang katanya korban pariwisata. Memang saya tidak berada di posisi yang saat ini mereka rasakan. Namun jika saya berada di posisi mereka maka saya akan menempatkan diri sebagai pemilik atau pengelola bukan penjual.

Dari tulisan ini saya berharap kita semua bisa melihat dari berbagai sudut pandang. Tidak elok menghujat sesuatu hanya karena melihat dari sudut yang berbeda. Dan saya berharap kita tidak hanya melempar sampah sembarangan, namun bisa ikut serta dalam mencegah penyebaran sampah. Baik itu sampah pikiran, sampah opini, sampah adudomba.
Sekian tulisan saya yang tidak jelas ini, semoga pesannya tersampai pada anda yang membacanya. Bahwa wisata adalah kewajiban kita bersama untuk peduli menjaga perkembangannya. Tempatkan diri sebagai seorang pemilik dan pengelola jangan jadi penjual di Gumi Paer ini.




#diariku #wisata