Kamis, 30 November 2017

Bermain Layang-layang Bukan Sekedar Ulur Tarik Benang

Illustrasi oleh @upangman

Nostalgia masa kecil memang sangat menyenangkan. Banyak hal yang sering kita lakukan, namun memiliki pengajaran yang kita bisa petik saat dewasa. Kita senang dan gembira bermain berbagai macam permainan, salah satunya bermain layangan. Kita memiliki berbagai peran dalam permainan ini. Ada seseorang yang pintar dan creative membuat layangan sendiri dengan tekun dan perhitungan yang matang. Rasa senang dan gembira akan harapan layangan bisa terbang tinggi membuat kita tak sadar menyanyikan sebuah lagu yang menyemangati hati.

"Kuambil buluh sebatang
Kupotong sama panjang
Kuraut dan kutimbang dengan benang
Kujadikan layang-layang"

Pada lirik ini seseorang dengan usaha dan tekadnya sangat bersemangat membuat layangan dengan perhitungan yang detail. Ini mengajarkan saya pribadi untuk memiliki sebuah tekad dan kematangan dalam melakukan sesuatu hal. Benar-benar dengan perhitungan dan ketelitian, sehingga adil dalam berbagai keadaan serta memandang dari berbagai sudut pandang. Dengan begitu kita bisa memutuskan untuk memulai sesuatu dengan hasil yang benar-benar diharapkan.

"Bermain, berlari
Bermain layang-layang
Berlari kubawa ke tanah lapang
Hatiku riang dan senang"

Lirik tersebut mengajarkan kepada saya, seseorang yang telah memulai sesuatu harus dengan semangat dan usaha yang penuh. Mengarahkan semua usahanya ke jalan yang benar-benar diridhoi. Dengan semangat dan tujuan itu tentunya setiap usaha akan membuat kita senang dan hatipun tenang. Pada tahap ini  seseorang juga membutuhkan partner untuk berlari dan bermain. Kadang kala ketika bermain akan ada angin besar, bahkan tidak ada angin yang membuat layangan atau usaha kita tidak terbang sesuai keinginan.

Ketika sudah jadi kita bermain dengan senang melihat layangan terbang tinggi. Seseorang diharuskan menarik ulur benang yang menjadi gantungan layangannya. Dalam proses ini seseorang membutuhkan perkiraan yang sangat matang dengan membaca angin. Semakin tinggi layangan semakin besar pula angin yang menghempasnya. Hanya ada dua pilihan, membiarkan layangan ada di posisinya atau mengulur benang lagi agar lebih tinggi. Karena jika ditarik maka putuslah benang dan layang akan terbawa derasnya angin. Belum jika dia takut petir maka musnahlah harapan untuk bermain layangan.

Ketika putuspun seseorang pemain diharapkan mempunyai hati yang lapang. Mengikhlaskan layangannya terbawa angin dan direbut oleh teman-temannya yang sama bermain. Nasip baik jika kita ikut mengejar dan mendapatkan kembali layang yang sudah terputus. Dalam hal inipun saya memetik pengajaran, bahwa dalam sebuah usaha kita harus siap gagal dan terjatuh. Hanya dua kemungkinan, kita bangkit lagi dengan harapan yang lama atau membuat usaha baru dengan semangat yang sama.

Itulah pengajaran dalam bermain layangan. Seseorang memulai sesuatu, dia juga harus siap dengan resiko yang akan dihadapi. Sebagai seorang yang bekerja di dunia creative saya dituntut untuk memiliki gagasan dan ide yang fresh. Saya juga harus mengerti akan resiko ide dan gagasan di jiplak orang lain, bahkan bisa saja orang lain mengklaim saya yang menjiplak ide dan gagasannya. Itu salah satu contoh resiko dalam bekerja yang kita ambil pengajaran dari bermain layangan.

Dalam dunia asmarapun seseorang juga diharapkan belajar dalam proses bermain layangan. Saya tidak ingin mengambil pengajaran dari membuat layangan ketika mencontohkan asmara, karena setiap orang memiliki proses yang berbeda. Namun saya akan mengambil proses kita dalam bermain. Karena dalam proses inilah seseorang bisa memperhatikan lakunya. Lihatlah ketika dua orang mencoba menaikkan layangan, ada yang membawa benang dan ada yang memegang layangan. Dalam asmara dibutuhkan dua orang yang sama-sama satu visi, menaikkan layangan. Setelah naikpun peran mereka masih terlihat walaupun tidak sepenting ketika menaikkan. Ketika sudah naik ada seseorang yang menjaga dan membuat layangan semakin tinggi. Sedangkan yang lainnya menunggu gantian untuk mencoba mengulur tarik benang agar layangan stabil di udara. Salah satu cara mereka berbeda dalam bermain, maka jatuhlah resiko yang di dapat. Ini sungguh pengajaran bagi saya dalam asmara agar memiliki komitmen yang sama untuk menjaga layangan tetap pada posisinya. Dalam tahap inipun akan sering terjadi cek cok antara dua orang ini. Ada yang ingin menaikkan lebih tinggi, ada pula yang ingin tetap ditempat atau bahkan menurunkan layangan karena perhitungan tertentu. Itulah hubungan asmara, kadang diulur kadang dibiarkan pada tempatnya kadangpula ditarik.

Belajarlah dari hal-hal yang terlihat namun tak tersurat. Banyak pengajaran yang bisa kita petik dari sana. Tentunya setiap orang memiliki sudut pandangnya masing-masing, namun tanyalah dirimu pantaskah layangan ini diundur, ditarik atau dibiarkan pada tempatnya menunggu angin besar menerpa dan menghanyutkannya atau menunggu angin hilang dan membuat terjatuh? Itulah tugas seorang ALAY (Anak Layangan) membuat manuver taril undur untuk membuat layangannya tetap ada di atas sana. Jikapun malam tiba dan waktumu bermain usai, maka gulunglah benangnya dan akhiri permainan itu atau ikatlah ditiang dan biarkan bermalam mengharapkan angin harapan membuat layangan terus pada tempatnya sampai esok hari.

Semua ada ditanganmu, tentukan dan lepaskan semua beban pikiran mu. Semua yang terkadi pasti ada hikmah yang akan membuat kamu terus kuat menjadi pemain yang hebat.

1 komentar so far

Keren euy ilustrasinya... Besok2 coba2 ah