Selasa, 27 Februari 2018

Ku Pergi Untuk Kembali


Perjalanan manusia mulai dari lahir sampai kembali ke sang Pemilik sudah tertulis di skenarioNya. Bahkan daun yang jatuhpun sudah ditentukan, kapan dan seperti apa itu terjadi. Dari kesadaran tentang hakikat hidup dan perumpamaan dedaunan yang memiliki skenario, saya mencoba untuk berpikir dengan jernih apa-apa yang mesti saya lakukan. Kita tidak akan bisa merencanakan segala sesuatu tanpa ada rasa berserah akan kehendakNya.
Bahkan takdir itu rahasia karena manusia diwajibkan untuk menjalani dan berserah akan ketentuanNya. Ampuni hambaMu ini!

Tepat jam 00.00 WITA di pulau seberang, membuat badan ini aktif ke sana kemari membereskan pembukus badan. Sudah dari beberapa minggu saya membuat banyak janji yang selalu dibatalkan sendiri karena ketentuanNya. Namun pada hari ini saya niatkan untuk kembali ke Gumi Paer.
Gelap dan dinginnya waktu tak menyurutkan saya untuk menyebrangi penghalang Pulau Lombok dan Bali. Hiruk pikuk keramaian tak membuat saya menjadi terlena terhadapnya. Seolah-olah tidak ada suara vocal, tidak ada bising dan hembusan angin malam. Sunyi seperti berada pada sebuah ruangan dengan peredam ketebalan 10cm.

Saya terus mengingat dan berusaha menyadari kesadaran diri akan ketentuan dan kehendakNya. Saya mahluk fana di dunia ini, tidak ada yang bisa saya lakukan kecualo berserah dan berusaha menjalani semua. Entah sudah berapa nasihat yang telontar dari orang-orang terdekat, seolah-olah menampar keras pipi berpori besar ini. Iya saya pengecut dan tak bertanggungjawab, sebuah penyesalan diri yang semakin membuat batin ini terpuruk. Silakan tampar sepuasnya, sadarkan aku dari mimpi yang melenakan. Tak banyak yang bisa saya lakukan ketika sebuah tanggungjawab perlahan saya tinggalkan demi menjalani ketentuanNya. Eh, kenapa tanggungjawab? Mahluk tidak bertanggungjawab kepada sesama mahluk, melainkan mahluk menjadi tanggungan penciptanya. Seolah-olah dua kepribadian dalam raga ini sedang saling menguatkan dan melemahkan argumen mereka. Satu mengatakan "kami harus kembali", satunya lagi mengantakan kamu harus jalani semua ketentuanNya. Kamu ini mahluk, yang harus kamu lakukan adalah menjalani semua yang sudah dituliskan. Hey! Tunggu dulu, kamu ini berkehendak bebas melakukan apa yang kamu suka dan inginkan. Hah, pikiran kontra itu terus-terusan terngiang sampai jam di hape layar sentuh terlihat 03.00, sudah waktunya menaiki besi mengapung.

Saya cari tempat yang pas untuk merebahkan kepala ini. Bising layar kaca membuat tidak konsen, saya berusaha memejamkan mata untuk mengisi tenaga namun lagi dan lagi suara-suara itu saling debat. Seolah-olah kebingunganku dan kegundahan ini dijadikan ajang mencari siapa yang salah atau benar. Cukup! Saya lerai mereka dengan batasan hape layar sentuh sambil membuat artikel ini.

Wahai engkau mahluk Tuhan paling seksi, kesadaran paling tinggi ummat manusia adalah kesadaran akan dirinya. Berpikir dan pertimbangkanlah sebelum kita memutuskan sesuatu. Segala sesuatunya tentu memiliki resiko/keuntungan. Namun jangan sampai itu membuat kita bebas dan lepas. Kembakilah ke ajaran inti manusia diciptakan

Percayalah, apa yang kita jalani sekarang adalah bibit untuk masa mendatang.
Kurangilah masalah itu dengan rasa berserah,  sabar dan ikhlas.
Saya yakinkan lagi "Kita semua akan pergi untuk kembali"
Dan saya akan kembali kepadaMu

Kepergian kita dari apapun dan untuk apapun pada muaranya adalah kembali.

 Keep Sharing anda caring

This Is The Newest Post

1 komentar so far

Komen perdana..
Dapat satu syal Pringgos gratisan sekek sudah ini..
*xixixi

Setuju.
Perjalanan sesederhana atau sedekat apapun, insyaAllah kandung ibrah untuk perjalanan hidup selanjutnya.

Aamiin.